Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Persahabatan

 

Dengan langkah yang berat Lisa memasuki kantor Kepala Sekolah , entah sudah kesekian kalinya dia memasuki ruangan ini dalam beberapa minggu ini. Dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ibu Lani Kepala Sekolah tempat dia belajar.

Tapi tetap saja ada rasa galau dan gelisah ketika melangkahkan kakinya.

“Selamat Pagi Bu….. ! Lisa menyapa Bu Lani

“Pagi…Lisa…”! Silahkan duduk !

Bagaimana Lisa bisakan kamu memberikan jawabanmu hari ini ?

Tanpa sadar Lisa menghela napas dia bingung tidak tahu harus menjawab apa.

Bulan lalu ada pengumuman tentang perlombaan design iklan seJawa Barat secara kelompok,semuanya enam orang termasuk dia sendiri salah satunya. Meskipun Lisa termasuk orang yang senang dan berprestasi di bidang design tapi entah kenapa dia tidak berminat sama sekali untuk ikut perlombaan itu.

Tapi teman-teman dan gurunya selalu mensupport dan mendorong dia untuk ikut karena Lisa memang jago dalam hal itu.

Dan terakhir dia dipanggil ibu Kepala sekolah karena masalah ini juga. Disatu pihak dia tidak berani menolak dan ada rasa tertantang tapi disatu pihak lagi dia enggan berurusan dengan Iyan ketua osis sekaligus ketua kelompok perlombaan. Dan Lisa meminta waktu ke Bu Lani selama beberapa hari sebelum dia memberi jawaban.

Tapi sampai sekarang dia belum dapat menjawabnya

Lisa……! Lisa…..! panggilan Bu Lani mengagetkan Lisa yang melamun dan tidak tahu harus menjawab apa.

“Iiii….iii… ya….Bu ! Lisa menjawab gugup.

“Lho .. malah ngelamun !

“Maaf… Bu saya tidak bisa ikut ! Lisa menjawab perlahan

Terdengar helaan nafas Bu Lani

“Baiklah, Lisa Ibu tidak bisa memaksamu tapi Ibu sangat menyayangkan keputusanmu kamu telah melewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia.

“Saya mengerti Bu..! Lisa menundukan kepalanya lalu pamit ke luar ruangan.

Di taman sekolah dia berhenti sebentar menarik napas panjang.

Dia benci sekali pada dirinya sendiri, mengapa dia begitu lemah menghadapi masalah ini tidak habis-habisnya dia menggerutu sendiri.

Ingatannya kembali pada kejadian tahun lalu terlintas lagi dimana dia dan Iyan pertama kali berkenalan saat itu Lisa masih kelas 3 SMP dan Iyan kelas 2 SMU.

Lisa seorang yang dinamis, cuek, tak peduli urusan orang lain, jago gitar , jago gambar & design. Dan Iyan cowoq dingin sok tahu tapi banyak penggemar. Saat itu ada perselisihan antara Lisa dan Iyan mengenai design iklan untuk acara HUT sekolahnya. Dan Lisa benci sekali berurusan dengan cowoq yang keras kepala dan sok berprinsip itu. Lisa akhirnya menyerah dan dia lepas tangan tidak mau lagi jadi panitia HUT sekolahannya. Tapi Iyan justru menantangnya katanya Lisa lemah dan tak punya pendirian. Baru ditantang segitu aja udah nyerah. Mendengar perkataan Iyan, Lisa jadi naik darah. Tapi sikapnya yang cuek cukup untuk mengalahkan perasaan sakit di hatinya karena ejekan Iyan tadi. Hari-hari dilaluinya dengan terus-terusan berantem sama Iyan. Iyan selalu mengomentarinya tentang hal-hal yang sangat tidak penting menurut Lisa. Di lain tempat, para guru dan peserta lomba lainnya masih terus berdikusi dan berusaha untuk merajuk Lisa agar mau untuk ikut perlombaan itu. Mereka masih terus menyayangkan talenta yang Lisa memiliki namun tidak dikembangkannya itu.

Suatu pagi di tempat rapat di sekolah Bu Lani mengadakan rapat dadakan

“Saya membuat rapat rahasia ini, bermaksud untuk mendiskusikan hal tentang Lisa, kira-kira ada tidak diantara kalian yang mempunyai usulan untuk mambujuk dia untuk ikut acara itu?”

Semua siswa hening .

“Saya tahu sesuatu tentang apa yang terjadi pada mereka!” tiba-tiba seseorang anak berkata.

“Ok. Apa yang kamu ketahui, Mike?”

Lalu cowok yang bernama Mike yang juga merupakan salah satu teman akrab Iyan membeberkan semua rahasia antara Iyan dan Lisa.Dari mulai perebutan pembuatan design untuk iklan sampai terjadi ejek-ejekan (lebih tepat Iyannya sich…=) sampai akhirnya Lisa malas untuk ikut perlombaan itu karena Iyan yang mengetuai perlombaan tersebut.

Bu Lani manggut-manggut tanda mengerti.

“Oh begitu ya? Terus mengapa kamu mau menceritakan hal ini semua pada kami?”

“Karena apa yang saya ceritakan itu benar adanya. Dan kebenaran akan terungkap cepat ataupun lambat. Cuman saya pikir Ibu Lani dan semuanya perlu tahu sekarang sebelum semuanya terlambat!”

“Ok. Ibu hargai keberanian itu. Baik sekarang Iyan, apa benar yang semua dikatakan Mike itu?”

“Be…be…nar Bu!”

“Ibu hargai kejujuran kamu! Sekarang gimana caranya agar kita bia membujuk dia untuk ikut perlombaan itu?”

“Gini aja Bu, kita adakan pemungutan suara!”

“Pemugutan suara? Maksud kamu?”

“Semua siswa sekolah ini baik yang ikutan lomba ataupun tidak disuruh memilih antara Lisa dan Iyan untuk mengambil posisi sebagai ketua lomba atau panitianya. Dengan begitu Lisa tidak mungkin menolak kan ?”

“Ibu setuju dengan alasan tersebut! Bagaimana Iyan? Kamu setuju dengan hal tersebut?”

“Walaupun saya tidak setuju, tapi saya tidak bisa nolak kan Bu?”

“Ya sudah keputusan sudah ada. Dan tolong kamu yang urusin semua nya ya Mike?”

“Baik Bu!”

“Ok, rapat selesai. Kalian boleh pulang!”

Seminggu telah berlalu pengambilan suara sudah ditutup. Dan rapat kembali diadakan.

“Bagaimana hasilnya Mike?”

“Lisa mendapat 190 suara seadangkan Iyan hanya 110. Jadi, lebih dari 50% siswa-siswi di sekolah ini mempercayakan tanggung jawab itu kepada Lisa. Jadi hasilnya sudah diputuskan bahwa Lisa lah yang akan menjadi ketua kelompok perlombaan itu.”

“Ok, Ibu sudah menduga hal itu dari awal. Bagaimana Iyan, ternyata banyak teman-teman mu yang lebih memilih dan mendukung Lisa untuk menjadi ketua dalam perlombaan tersebut.”

“Termasuk gue, Yan!” kata Mike, yang membuat Iyan terkejut

Lisa yang sengaja diundang ke rapat itu sangat kaget ketika mendengar hal itu, mengapa dirinya yang dipilih?

“Saya tidak bisa untuk menolak keputusan tersebut. Saya sudah relakan jabatan tersebut untuk orang lain. Dan ternyata jabatan itu jatuh ke tangan Lisa. Jadi semuanya akan jauh lebih baik daripada waktu saya yang memegang jabatan tersebut.”

“Ok rapat selesai kalian boleh pulang. Lisa selamat ya!”

Ketika semua anak sudah pulang tinggallah Iyan dan Lisa berdua di ruang rapat itu.

“Lis, kok bengong?” akhirnya Iyan yang duluan angkat bicara.

“Oh, eh ga papa kok! Eh sori ya jabatan kamu diambil alih ke aku! Kalau kamu mau aku bisa kok minta ke Bu Lani untuk membatalkan hal tersebut.”

“Eh, jangan! Kamu memang pantes kok ngedapetin itu semua. Justru aku mau minta maaf kalau selama ini aku bersikap kasar ke kamu, selalu mojokin kamu. Tapi aku lakuin itu semua bukan untuk menyakiti hati kamu, melainkan karena...........

“Karena apa Yan? Kamu buat aku penasaran aja nih!”

“Karena aku sayang banget sama kamu cuma sikap kamu yang cuek itu buat aku jadi bingung gimana cara ngedeketin kamu. Makanya aku berusaha cari perhatian kamu dengan bersikap usil yang menurut kamu mungkin menyebalkan. Jadi sekarang gimana ? Kamu mau jadi pacar aku?”

“Oh gitu ya??? Tapi sori Yan, bukannya aku ga mau tapi aku ga bisa! Soalnya aku masih berjanji sama orang tuaku untuk konsentrasi sama pelajaran aku dulu! Kita jadi teman baik aja ya? Ga papa kan ?”

“Oh ga papa kok! Kamu mau jadi teman aku, aku juga udah senang kok!” Iyan berusaha untuk tersenyum namun terdengar nada kecewa dari ucapannya tersebut.

“Beneran? Yaudah nanti kita barengan nyusun acara perlombaan itu ya? Biar kegiatan lomba itu terlihat beda dari tahun-tahun sebelumnya.”

Iyan tersenyum “Ok, kita benahi lomba itu berengan.”

Mereka keluar bersama-sama sambil bercanda. Tanda dimulainya suatu persahabatan. Dan untuk pertama kalinya Iyan melihat Lisa terawa bahagia seperti itu. Manis sekali.