Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Indonesia is The Best

 

“Eh, lihat deh! Dari sini kayaknya bagus banget!” Deby melambai-lambai sambil berteriak memanggilku.

Matanya terfokus pada layar kecil di kamera digital yang berada di tangan kanannya. Dengan malas aku mendekat ke arahnya. Ini sudah jam 2 siang dan sudah 2 jam lebih kami berada di sekitar Monas. Norak memang, tapi itulah kenyataannya.

“Vin, fotoin aku donk! Nih liat, posisinya gini ya. Udah pas banget, Monasnya kelihatan jelas lho!” dengan semangat Deby melanjutkan instruksinya.

Cewek berambut sepinggang itu segera memberikan kameranya padaku dan berlari ke tempat yang sudah jadi sasarannya tadi. Lalu ia bergaya dengan gaya-gaya ajaibnya di depan tugu Monas yang menjulang tinggi.

 

Deby adalah sepupuku dan ia baru saja kembali dari Amerika seminggu yang lalu. Setelah 3 tahun menetap di negara orang, sepertinya Deby merasa sangat rindu pada tanah airnya ini dan sudah merencanakan liburan kali ini jauh-jauh hari. Karena semangatnya, selama di Indonesia ini dia mengahabiskan 2 minggu pertama liburannya dengan mengunjungi berbagai tempat-tempat yang jadi objek wisata di berbagai kota . Sejauh ini aku sudah menemaninya ke Surabaya , Jogja dan kota asalku sendiri yaitu Bandung . Sekarang kami sudah 5 hari di Jakarta —tempat tinggal Deby yang dulu—dan sudah mengunjungi berbagai tempat, dan sayangnya tempat-tempat itu bukan mall seperti yang kuharapkan, tetapi tempat-tempat seperti Taman Mini dan Monas ini.

 

Setelah capek berfoto dan berkeliling, kami duduk-duduk di kursi taman yang ada di sekitar Monas. Deby tampaknya mulai menyadari kelelahan-ku menemani dirinya yang tidak punya rasa capek itu.

“Vin, maaf ya aku maksa kamu nemenin aku. Capek ya?” tanyanya.

“Nyadar juga akhirnya… Lagian kamu ini aneh banget, kok kayaknya seneng banget ke Monas? Monas ini, bukan menara Eiffel!” jawabku.

“Mm… emang sih, norak kedengerannya. Tapi entah kenapa aku memang rindu banget sama tempat ini. Aku pengen foto, jadi punya kenang-kenagan dan temen-temen aku yang di sana bisa pada lihat gimana sih Indonesia itu, biar mereka juga pada tahu kalo ada Monas, di Indonesia. Gak Cuma Liberty aja yang terkenal!” katanya dengan wajah berseri-seri.

Dan akupun tersenyum. Melihat senyumku yang tiba-tiba itu Deby mengerutkan dahinya.

“Kenapa? Kok senyum?” tanyanya.

“Gak… Cuma aku ngerasa kagum aja, kamu itu udah 3 tahun di Negara orang. Tapi rasa nasionalisme-mu tetep tinggi sama Negara sendiri. Pake acara promosiin obyek wisata lagi!” kataku. “Kalo aku sih mungkin sudah bakal betah dan gak ambil pusing soal Monas dikenal orang atau tidak. Kalaupun pulang paling buat ketemu keluarga dan temen-temen.”

“Hmm.. walaupun aku tinggal di sana udah enak ini-itu, gaulpun gak ada masalah, tetep aja buat-ku Indonesia is the best! Bukan cuma karena di sini aku dibesarkan dan temen-temen gue disini, tapi karena aku emang suka sama bangsa ini. Biar banyak masalah, banjir berkala yang ngerendem rumah-ku, dan ini-itu sebaginya, tetep aja negara ini adalah negara yang kucintai.”

“Deuh, dalam.. dalam…” ejekku.

“Eh, aku serius!!!” katanya. “Aku kan nyari ilmu di sana , nanti kalo udah pinter, Aku bakal balik ke sini dan bisa memberikan sesuatu buat bangsa ini.”

Aku termenung, benar juga kata-katanya. Deby yang udah ngerasain enaknya tinggal di luar negeri aja masih lebih cinta sama negara asalanya, masa aku yang tinggal di sini dari kecil gak bisa merasa cinta sama bangsa ini? Aku tersenyum lagi, mulai sekarang aku bakal menghargai bangsa ini dan mencintainya.