Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Sebuah Karangan

 

Sebulan berlalu sejak aku mengirimkan cerpen. Tidak pernah terbayangkan bahwa akan ada surat dari panitia lomba mengarang. Berarti tinggal selangkah lagi aku bisa melunasi semua hutangku.

Aku juga tidak pernah menyangka kalau disana ada Matt, anak dari seorang pengarang novel terkenal yang menyebalkan. Beberapa saat setelah kedatanganku, seorang perempuan setengah baya datang ke ruangan tempat aku menunggu. “Vera?” tanyanya dengan menatap ke arahku. “I..iya.” “Dan kamu Matt?” “Iya,” jawabnya. “Ayo silahkan duduk,” mendadak mimik wajahnya berubah dan tersenyum. “Begini. Cerpen yang berjudul “Rival” berhasil memenangkan juara pertama. Tapi kami menemukan dua karangan yang sama. Karangan Vera dan Karangan Matt memiliki kesamaan. Semuanya sama. Baik jalan cerita, inti cerita, maupun akhir ceritanya. Kami yakin kalau hanya ada satu karangan yang asli. Untuk itulah kalian berdua diundang kesini. Kalian berdua membuat esai tentang apa yang kalian pikirkan ketika membuat cerpen ini, beserta semua alasan kejadian yang terjadi dalam cerpen ini. Tidak perlu panjang-panjang. Singkat saja. Yang penting jelas, bagaimana?” “Iya setuju,” aku dan Matt menjawab serempak.

Kemudian sehelai kertas folio dibagikan dan aku pun mulai menumpahkan semua yang ada dikepalaku. “Kalau begitu, Ibu permisi sebentar. Masih ada yang harus Ibu kerjakan. Kalau salah satu dari kalian sudah selesai, silahkan menaruh esainya di meja,” katanya kemudian masuk ke ruangannya.

Suasana hening. Yang terdengar hanyalah bunyi pensil dan pulpen yang dicoretkan ke dalam kertas. Matt memulai pembicaraan.

“Vera… gue tau kalau sebenernya karangan itu punya lu,”

“Terus apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku.

“Dan lu tau'kan kalau ortu gue itu pengarang novel…”

“Ya kalau itu sih sesekolah juga udah tau,” jawabku ketus. “Orang tua gue maksa. Mereka bilang gue harus ikut lomba menulis cerpen ini. Tapi ya, gue sama sekali enggak suka yang namanya ngarang cerita. Jadi…waktu gue nemuin buku biru di laci meja … ya gampang tinggal copy-paste aja,”

Aku semakin kaget.

“Jadi lu yang nemuin buku biru itu?” “Ayolah,bantuin gue. Gampang'kan, lu tinggal bilang kalau yang nulis karangan itu sebenernya gue,” katanya memotong pembicaraanku.

“Enak aja. Gue udah cape-cape mikir, lu yang dapet hasilnya. Enggak.”

Aku sama sekali enggak suka sama Matt. Di sekolah, sombongnya minta ampun. Mentang-mentang punya ortu kaya raya. Nyatanya, masalah kayak gini aja dia enggak bisa nuntasin.

***

Aku tidak yakin dengan keputusanku. Apa bener ya, semua yang kulakukan padanya? Aku pulang ke rumah. Perasaan senang, sedih, menyesal, ragu, campur aduk jadi satu.

***

Satu Minggu kemudian…

Tepat di hari pengumuman pemenang lomba menulis cerpen, aku langsung membeli majalah dan membacanya. Ternyata benar. Disitu tertulis,

“Pemenang pertama : Matt .”

Hatiku sedih sewaktu aku membacanya. “Sayang ya, Ver. Padahal cerpen lu itu bagus loh.” Hibur sahabat terbaikku, Rena. Aku belum menceritakan kejadian ini pada Rena. Aku tidak ingin dia tahu tentang hal ini. “Ya udahlah apa boleh buat,” jawabku sambil menghela napas panjang. “Ver, thanks ya. Kayak yang udah gue janjiin, nanti gue bakal kirimin uangnya.” Kata Matt dengan nada meledek. Aku tidak tahu sejak kapan dia ada di dekatku. Kemudian, tanpa menunggu jawabanku, dia pergi meninggalkanku.

“Ver…kayaknya ada yang disembunyiin deh… Koq dia bilang kayak gitu? Ceritain dong, kita kan udah janji, enggak bakal ada rahasia,” kata Rena. Aku pun menceritakan semuanya.

***

“Ya ampun Ver! Lu tuh bodo atau apa sih? Masa lu mau dimintain tolong sama dia! Udah dia itu nyebelinnya minta ampun. Sombong lagi. Masa sih lu mau aja dapet duit. Padahal, lebih untung dapet nama baik daripada dapet duit. Duit'kan masih bisa dicari.” Katanya. “Tapi gue udah kepepet banget, si rentenirnya udah nagih-nagih sampai ampe enggak bisa tidur gara-gara pusing mikirin duit,” Suasana hening seketika. “Atau jangan-jangan… Lu punya feeling ya sama dia?” tanya Rena. “E..eh Rena, lu koq jadi punya pikiran kayak gitu sih? Gue juga sebenernya nyeeseel banget udah bantuin dia. Tapi, ya apa boleh buat… Kan udah gue ceritain, gue itu kepepet. Ayolah…bantuin ngehibur, jangan buat tambah rumit dong!” “Iya, iya deh,”

***

Matt menepati janjinya. Dia mengirimkanku uang dua kali lipat dari hadiah lomba, sama seperti yang sudah dijanjikannya waktu aku bilang aku akan menolongnya dengan mengatakan kalau Matt-lah pengarang cerpen yang sebenarnya adalah buatanku. Tapi… selama ini pikiranku selalu kacau. Pikiranku melayang ke masa lalu. Aku sudah lupa tepatnya, tapi sepertinya kejadian ini sudah lama sekali. Mungkin sekitar 6 tahun yang lalu.

“Hari ini adalah hari ulang tahunmu, Happy Birthday!” kata papa sambil memberikan sebuah bingkisan kecil. Sebuah diary biru.

Semenjak saat itu, aku selalu menuliskan semua yang kupikirkan di dalam buku diary itu. Rasanya kalau aku curhat dalam buku itu, aku akan merasa sangat tenang. Iseng-iseng ceritanya sering kuubah menjadi sebuah karangan. Masa-masa Sekolah Dasar yang menyenangkan, ditambah keluarga yang lengkap. Ada Papa, mama, dan aku.

Sampai kejadian itu tiba…

“Pa, sekarang Vera naik kelas, loh! Vera dikasih hadiah sama Bu Guru,”

“I..iya. Se..selamat ya,” kata Papa sambil tersenyum. Aku tidak pernah menyadari kalau itu adalah senyumnya yang terakhir.

“Aduh! Vera lupa! Buku biru yang Papa kasih ketinggalan di sekolah… Vera takut kalau buku itu hilang…”
“Ya udah. Nanti Papa ambilin. Kamu tunggu disini aja ya,”

Kenapa waktu itu aku tidak pernah menyadari kalau Papa sedang sakit? Kenapa aku harus ingat kalau buku biru itu tertinggal? Lebih baik kehilangan buku daripada kehilangan papa…

Kecelakaan mengenaskan itu terjadi. Aku sama sekali tidak ingat, mengapa kecelakaan itu bisa terjadi. Yang pasti, aku sangat sedih dan aku langsung berteriak sekencang-kencangnya. Untung ada mama yang senantiasa menghiburku. Papa menggenggam buku biru itu ketika kecelakaan itu terjadi.

Semenjak hari itu, aku tidak pernah ingin membuka buku diary itu lagi. Gara-gara diary itu papa meninggal. Sekarang, di rumah kecil super sederhana ini, aku sendirian bersama mama.

Kemudian, di saat aku benar-benar di ujung tanduk untuk membayar hutang-hutangku, diary itu menampakkan dirinya. Seakan-akan ingin kutemukan untuk membantuku. Aku terlalu bersemangat untuk menyelesaikan karanganku, sampai buku itu tertinggal di sekolah, dan Matt datang menjiplak karyaku, mengawali semua masalah ini.

***

Memori-memori dari masa lalu terus membayangiku. Membuatku terus dihantui perasaan bersalah. Padahal papa meninggal karena aku juga diary itu. Dan sekarang karangan yang kubuat dalam diary itu kurelakan dijiplak orang lain karena uang? Tapi aku harus bagaimana? Kalau tidak melakukan hal ini, aku pasti tidak akan bisa melunasi hutangku!

Di saat itu pula, seseorang datang. Kuintip dari jendela. Itu Matt! Aku langsung memalingkan wajahku.

“Ver…tunggu dulu! Kali ini bener, gue bawa berita gembira! Gue udah cerita semuanya ke ortu gue. Mereka bilang cerpen lu itu bagus banget, apalagi kalau dijadiin novel. Mereka bakal bantu lu nerbitin novel lu, itu juga kalau lu mau. Gue juga udah bilang sama panitia lomba mengarang, kalau karangan itu sebenernya punya lu!” teriaknya dari balik pintu. Aku bahagia. Sangat bahagia.

Kubukakan pintu rumahku. Sepertinya dia melihat mataku yang bengkak. “Nangis ya?” katanya sedikit meledek.

“Ih pengganggu lu! Gue enggak percaya! Yang ada lu malah ngebohong lagi!”

“Bener, kali ini bener. Ortu gue itu mau ngerti. Malah mau ngebantu lu. Harusnya lu tuh nyambut gue, gue udah cape-cape dateng ke rumah lu, udah gitu dibentak-bentak lagi… Ya udah kalau lu enggak percaya, gue pulang…”

“Eh tunggu! Iya iya, gue percaya,” kataku pelan. Dan benar, kata Rena, sepertinya aku memang punya feeling sama Matt… ***